NIAT BAIK
JUJUR
AMANAH
IKHLAS
JUJUR
AMANAH
IKHLAS
Tampilkan postingan dengan label Prajurit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prajurit. Tampilkan semua postingan
Senin, 30 April 2012
Sabtu, 14 April 2012
Senin, 12 Maret 2012
CARA AWAL PENDAFTARAN BINTARA/TAMTAMA PK TNI-AL
Jika dalam postingan yg lalu saya uraikhan syarat-syarat umum untuk calon bintara/tamtama
sekarang ialah hal apa saja yg harus disiapkan dalam tahap awal pendaftaran.
1.Calon datang sendiri keLAPETAL/LANAL diwilayah calon.
2,Calon membawa semua syarat2 dokumen yg asli disertakan fotocopy-nya (rangkap 2)
3.Untuk BINTARA menggunakan map berwarna (kuning) TAMTAMA (merah)
4.Menggunakan baju/busana yang sopan dan sepatu.
5.Masuk keArea pendaftaran dan menyerahkan semua berkas rangkap 2 tsbt kpd panitia pendaftar.
6.Menunggu untuk dipanggil namanya dan menjalani test awal.
7.Mengisi formulir pendaftaran dgn bnr.(jika lulus dlm test awal).
8.Mengikuti arahan/instruksi panitia untuk kapan pelaksanaan test selanjutnya dilaksanakan dgn
Teliti dan cermat sehingga faham dan mengerti setiap arahan dr panitia untuk langkah slnjtnya.
Kamis, 08 Maret 2012
penebar maut dari cina kini dimiliki jajaran TNI-AL
(Bahasa China: 鹰击-82,yang berarti "Serangan Elang"; Kode NATO: CSS-N-8 Saccade)
adalah rudal anti kapal China yang pertama kali diungkapakan pada 1989
oleh China Haiying Electro-Mechanical Technology Academy (CHETA),
dikenal juga dengan Akademi ketiga. Sehubungan dengan pantulan radar
yang kecil , jalur terbang yang rendah (sekitar 5 sampai 7 meter di atas
permukaan laut) dan kemampuan anti-jamming yang tinggi dari peralatan
pandunya , maka kapal sasaran mempunyai kesempatan yang kecil untuk
menghambat C-802.Kemungkinan perkenaan dari tembakan satu rudal C-802
diperkirakan sekitar 98%. Yingji-82 bisa diluncurkan dari pesawat terbang , kapal permukaan , kapal selam dan kendaraan darat dan bersama dengan rudal Harpoon dianggap sebagai rudal anti kapal terbaik di generasinya. Nama ekspor dari rudal ini adalah C-802.
Rudal C 802 dapat diluncurkan dari berbagai platform antara lain kendaraan darat bergerak/semi bergerak, kapal permukaan, kapal selam dan pesawat tempur. Sasaran utama Rudal C 802 adalah kapal type destroyer, frigate, landing ship atau sasaran permukaan laut yang lain. Selain itu Rudal C 802 dapat digunakan untuk menyerang sasaran di darat. Rudal ini memiliki sistem pendorongan booster dan turbojet sehingga mampu terbang dengan kecepatan subsonik (0,8 – 0,9 Mach ; 1 Mach = 344 meter/detik).
CASIC (China Aerospace Scientific Industry Cooperation) adalah pabrik pembuat Rudal C 802 yang merupakan modifikasi versi C 801 (setara dengan Rudal Exocet MM 38 buatan Perancis), sedangkan Rudal C 802 memiliki kemampuan dan akurasi setara dengan Rudal Harpoon buatan Amerika Serikat. Modifikasi mendasar pada Rudal C 802 adalah penambahan sistem Turbo Jet untuk menghembuskan udara sehingga menambah jarak jangkaunya. China terus mengembangkan Rudal jenis ini. Jenis Rudal yang diluncurkan dari Pesawat Udara adalah C 802K (YJ-82K), bahkan C 802 sudah dimodifikasi menjadi C 803 / YJ-83 yang mempunyai jarak jangkau 150-200 km sehingga merupakan Rudal supersonik. Negara-negara pengguna Rudal C 802 antara lain : Indonesia, Bangladesh, Iran, Thailand, Pakistan, Myanmar.
Umum
Rudal C 802 / Yingji-82 (Yingji arti harfiahnya adalah “Serangan Elang”) merupakan Rudal anti kapal permukaan yang diproduksi oleh China dan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1989 oleh China Haiying Electro Mechanical Technology Academy (CHETA). Rudal ini memiliki kemampuan pantulan radar yang kecil, lintasan terbang yang rendah (sekitar 5 sampai 7 meter di atas permukaan laut) dan anti jamming yang tinggi, sehingga kapal sasaran mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi pula untuk menghambat Rudal C 802. Kemungkinan perkenaan dari Rudal ini terhadap sasaran adalah sekitar 98%.Rudal C 802 dapat diluncurkan dari berbagai platform antara lain kendaraan darat bergerak/semi bergerak, kapal permukaan, kapal selam dan pesawat tempur. Sasaran utama Rudal C 802 adalah kapal type destroyer, frigate, landing ship atau sasaran permukaan laut yang lain. Selain itu Rudal C 802 dapat digunakan untuk menyerang sasaran di darat. Rudal ini memiliki sistem pendorongan booster dan turbojet sehingga mampu terbang dengan kecepatan subsonik (0,8 – 0,9 Mach ; 1 Mach = 344 meter/detik).
CASIC (China Aerospace Scientific Industry Cooperation) adalah pabrik pembuat Rudal C 802 yang merupakan modifikasi versi C 801 (setara dengan Rudal Exocet MM 38 buatan Perancis), sedangkan Rudal C 802 memiliki kemampuan dan akurasi setara dengan Rudal Harpoon buatan Amerika Serikat. Modifikasi mendasar pada Rudal C 802 adalah penambahan sistem Turbo Jet untuk menghembuskan udara sehingga menambah jarak jangkaunya. China terus mengembangkan Rudal jenis ini. Jenis Rudal yang diluncurkan dari Pesawat Udara adalah C 802K (YJ-82K), bahkan C 802 sudah dimodifikasi menjadi C 803 / YJ-83 yang mempunyai jarak jangkau 150-200 km sehingga merupakan Rudal supersonik. Negara-negara pengguna Rudal C 802 antara lain : Indonesia, Bangladesh, Iran, Thailand, Pakistan, Myanmar.
Data -Data Teknis dan Taktis Rudal C 802
- Produsen : CASIC
- Jenis : Surface to Surface Missile.
- Jarak Efektif : 10-120 km
- Kecepatan Jelajah : 0,8 -0,9 Mach
- Ketinggian Jelajah : 20 m
- Terminal Flight Altitude : 5 m (sea state 1-3) , 7 m (sea state 4-5)
- Panjang : 6,383 m
- Diameter : 0,36 m
- Wing Span : 1,22 m (tidak terlipat) ; 0,72 m (terlipat)
- Berat : Take Off Weight 705 kg; Stage II Weight 520 kg
- Moda Pemandu : Self Control Mode & Self Guidance Mode.
- Warhead : Semi Armour Piercing Blast Type dengan berat 150 kg.
- Daya Ledak : Satu Rudal mampu menghantam kapal perang sekelas destroyer 3.000 ton sehingga mengakibatkan kerusakan serius atau menghilangkan kemampuan tempurnya.
- Fuse: Electromechanical Contact Time Delay Fuze.
- Probabilitas Pencarian Akuisisi Target :
- Jarak antara 10-90 km (98%)
- Jarak antara 90-120 km (95%)
- Probabilitas Target Hitting Saat Fase Self Guidance : 90%
Kemampuan Rudal C 802
- Jangkauan di balik Cakrawala (Over The Horizon Target). Rudal C 802 mampu terbang dengan jarak maksimal 120 km dan memiliki sarana untuk menerima input data dari GPS. Hal ini tentunya sangat berguna untuk menghancurkan lawan yang berada di balik cakrawala.
- Kemampuan Segala Cuaca. Kebutuhan untuk terus menerus mampu operasional di semua kondisi alam menuntut Rudal C 802 mampu bekerja pada segala cuaca. Faktor lingkungan yang mempengaruhi Rudal ini adalah Sea State dan Rainfall. Rudal C 802 dapat dioperasikan pada kondisi sea state 5 (ketinggian gelombang s/d 5 m) dengan curah hujan maksimal 7,5 mm/jam.
- Mandiri Setelah Take Off. Setelah Rudal lepas dari peluncur container, maka Rudal bergerak berdasarkan data dari KRI, kemudian mencari target sesuai dengan Radar seeker yang ada dalam Rudal.
- Kemampuan Bertahan Yang Tinggi. Kemampuan terhadap sistem pertahanan lawan dalam bentuk penghindaran terhadap Perang Elektronika (Pernika) lawan (4 kemampuan anti jamming yaitu anti sea clutter, frequency agility, anti noise jamming dan anti range gate pull off / pancaran radar jammer dipantulkan pada posisi sedekat mungkin dengan echo pantulan platform jammer. Selain itu Rudal ini juga mampu homing pada jarak 3-8 km (short range) dan 7-15 km (long range).
- Memiliki Kehandalan Tinggi. Rudal C 802 dilengkapi dengan fasilitas sistem “Simulate Mode” untuk mengetahui kondisi kesiapan sistem kendali senjata yang ada di KRI serta fungsi “Pre Launch Check” untuk mengetahui kondisi kesiapan Rudal itu sendiri.http://id.wikipedia.org/wiki/C-802
Spesifikasi KRI LAYANG 805
merupakan kapal ketiga dari kapal perang jenis kapal cepat kelas Todak milik TNI AL. Dinamai menurut nama ikan Layang.
KRI Layang merupakan kapal ketiga dalam seri FPB57 Nav V yang dirancang dan dibangun sepenuhnya oleh PT. PAL, Surabaya untuk TNI Angkatan Laut. KRI Layang masuk ke jajaran armada Angkatan Laut pada tahun 2003.
Bertugas sebagai armada patroli cepat yang beroperasi laut dangkal, dan sebagai kapal perang anti kapal permukaan.
Termasuk dalam kelas Todak bersama KRI Layang antara lain KRI Todak (803), KRI Hiu (804) dan KRI Lemadang (806).
Data teknis
KRI Layang memiliki berat 447 ton. Dengan dimensi 58,10 meter x 7,62 meter x 2,85 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel, 2 shaft menghasilkan 8,850 shp yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 27 knot. Diawaki oleh maksimal 53 pelaut.KRI Layang dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk di antaranya adalah:
- 2 rudal permukaan-ke-permukaan C 802 buatan Tiongkok dengan jangkauan maksimal sekitar 130 Km
- 1 Meriam Bofors SAK 57/70 berkaliber 57mm dengan kecepatan tembakan 200 rpm, jangkauan 17 Km untuk target permukaan dan udara dengan pemandu tembakan Signal LIROD Mk. 2.
- 1 Meriam Bofors SAK 40/70 berkaliber 40mm dengan kecepatan tembakan 300 rpm, jangkauan 12 Km untuk target permukaan dan udara.
- 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara..
Sensor dan elektronis
KRI Layang diperlengkapi perangkat perang elektronik DR-3000 intercept dan peluncur Dagie decoy RL untuk pengecoh rudal musuh.http://id.wikipedia.org/wiki/KRI_Layang_
Spesifikasi KRI TODAK 803
merupakan kapal pertama dari kapal perang jenis Kapal patroli cepat kelas Todak milik TNI AL. Dinamai menurut nama ikan Todak.
Bertugas sebagai armada patroli cepat yang beroperasi laut dangkal, dan sebagai kapal perang anti kapal permukaan. Termasuk dalam kelas Todak antara lain KRI Hiu (804) dan KRI Layang (805) dan KRI Lemadang (806).
Data Teknis
KRI Todak memiliki bobot pada muatan penuh 445 ton. Dengan dimensi 58,10 meter x 7,62 meter x 2,85 meter. Ditenagai oleh 2 mesin diesel, 2 shaft menghasilkan 8,850 shp yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 27 knot. Diawaki oleh maksimal 53 pelaut.Persenjataan
KRI Todak dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah :- dipersenjatai 2 rudal permukaan-ke-permukaan C 802 buatan Tiongkok dengan jangkauan maksimal sekitar 130 Km
- 1 Meriam Bofors SAK 57/70 berkaliber 57mm dengan kecepatan tembakan 200 rpm, jangkauan 17 Km untuk target permukaan dan udara dengan pemandu tembakan Signal LIROD Mk. 2.
- 1 Meriam Bofors SAK 40/70 berkaliber 40mm dengan kecepatan tembakan 300 rpm, jangkauan 12 Km untuk target permukaan dan udara.
- 2 kanon Penangkis Serangan Udara Rheinmetall kaliber 20mm dengan kecepatan tembakan 1000 rpm, jangkauan 2 KM untuk target udara..
Sensor dan elektronis
KRI Todak diperlengkapi perangkat perang elektronik DR-3000 intercept dan peluncur Dagie decoy RL untuk pengecoh rudal musuh.| Produksi | PAL Indonesia, Surabaya |
| Mulai dibuat | |
| Diluncurkan | 1999 |
| Ditugaskan | 2000 |
| Status | Masih bertugas |
| Pelabuhan utama | Armada Barat TNI-ALhttp://id.wikipedia.org/wiki/KRI_Todak |
Tertib Penggunaan Seragam,Atribut,Stiker berbau TNI
Kepada prajurit TNI AL yang sedang melaksanakan OPS GAKTIB agar;
Pertama, Melakukan penertiban penggunaan seragam TNI beserta atributnya oleh perorangan atau kelompok yang tidak berhak.
Kedua, Melakukan penertiban penggunaan stiker berlogo TNI pada kendaraan non organik TNI atau kendaraan pribadi, swasta, perusahaan dan angkutan umum.
Ketiga, Melarang keluarga Prajurit TNI (istri/suami/anak) menggunakan seragam TNI beserta atributnya untuk kegiatan tertentu.
Keempat, Melarang keluarga Prajurit TNI untuk memasang/memakai stiker berlogo TNI pada kendaraan non organik TNI atau kendaraan pribadi,swasta,perusahaan dan angkutan umum.
Untuk menciptakan kondisi yang kondusif dalam pelaksanaan perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Pertama, Upayakan tidak menimbulkan ekses negatif saat komunikasi dengan masyarakat umum serta jelaskan maksud dan tujuan penertiban.
Kedua, Melakukan koordinasi dengan instansi terkait agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan tertib dan lancar.
Sumber : ST Kasal No. ST/498/2011
Tentang : Penertiban Atribut/GAM TNI serta stiker berlogo TNI
MARS TNI-AL
angkatan laut indonesia
pengawal samudra raya
berjuang bela bumi persada
demi kejayaan nusantara
prajurit laut putra samudra
bernafaskan trisila
gagah berani pantang menyerah
bersemangat pancasila
terjang walau badai menghadang
hancurkan rintangan teguh pada tujuan
terus korbankan semangatmu
kibarkan bendera kewajiban
jalesveva jayamahewww.tnial.mil.id
Teori Change Management
Change Management (CM) atau yang kemudian sering disebut sebagai
manajemen perubahan1 merupakan pendekatan baru yang dikembangkan dan
populer dalam menyelesaikan permasalahan pada setiap tatanan. Manajemen
perubahan, sesuai dengan namanya digunakan untuk melakukan perubahan atau
untuk menghadapi perubahan. Perubahan perlu dilakukan karena situasi dan
kondisi berubah, tuntutan, dan bahkan perkembangan pada tataran praktispun
mengharuskannya. Manajemen Perubahan tidak hanya perlu diterapkan pada
perubahan yang sifatnya relatif dapat diprediksi (predictable), tetapi CM juga
relevan untuk menghadapi perubahan drastis yang disebabkan oleh hal-hal yang
tidak dapat diprediksikan jauh sebelumnya (unpredictable). Contoh penyebab
1 Perubahan bisa bermakna melakukan hal-hal dengan cara baru, mengikuti jalur baru,
mengadopsi teknolohi baru, memasang dan menggunakansistem baru, mengikuti prosedurprosedur
manajemen baru, menggabungkan, melakukan reorganisasi, atau terjadinya
peristiwa yang berisfat mengganggu (disruptive) yang sangat signifikan (Jeff Davidson, Change
Management – Terjemahan (Jakarta, Prenada, 2005) halaman 3.
perubahan itu adalah bencana alam (seperti gempa, angin kencang, banjir,
kelaparan, dan sebagainya), dan masih banyak lagi.
Berdasarkan pemikiran inilah maka Change Management cocok dalam
penataan kembali tata kelola pulau-pulau kecil terluar, karena perlu adanya
perubahan pengelolaan dan cara pandang dalam menghadirkan kondisi yang
lebih baik di wilayah perbatasan Indonesia tersebut.
Perspektif teori, menyebutkan bahwa perubahan dapat dibedakan
dengan cara lain. Rhenald Kasali mengutip pendapat R.L. Daft (2004) membagi
perubahan menjadi dua: (a) Perubahan strategis. Perubahan ini mencakup
transformasi dan perubahan visi, sistem kerja, sampai restrukturisasi; (b)
Perubahan operasional. Ini adalah perubahan yang harus terus menerus
dilakukan untuk menjaga keseimbangan organisasi. Pembenahan bagian atau
unit-unit di dalam sistem menjadi bagian dari perubahan ini. Manajemen
perubahan tidak hanya berguna untuk meraih keberhasilan di masa depan,
tetapi juga diperlukan sebagai solusi atau terapi atas permasalahan yang sedang
dihadapi saat ini.
Dari beberapa sumber referensi sehingga dapat disimpulkan bahwa
manajemen perubahan merupakan sebuah proses penyejajaran (alignment)
berkelanjutan sebuah sistem dengan situasional dan melakukanya lebih tanggap
dan efektif dari pada para peasingnya. Dimana Manajemen Perubahan
merupakan upaya yang dilakukan untuk mengelola akibat-akibat yang
ditimbulkan karena terjadinya perubahan dalam sistem. Perubahan dapat terjadi
karena sebab-sebab yang berasal dari dalam maupun dari luar sistem tersebut.
Manajemen perubahan berasal dari teori organisasi sehingga beberapa
literatur banyak yang merujuk pada pendekatan yang dikembangkan pada teori
tersebut, akan tetapi walaupun pendekatan ini berkembangan dari teori
organisasi tetap saja sebagai sebuah pendekatan dia memiliki kesamaan
karakteristik dalam sebuah sistem. Ada beberapa teori yang mendasari change
management, teori tersebut sebagai berikut:
a) W. Edwards Deming, Ph.D (1900-1993) mengemukakan bahwa kualitas
bukanlah sesuatu yang perlu didifinisikan dalam pengertian kongkrit dan
kualitas hanya dapat didifinisikan oleh pelanggan serta mengusulkan agar
para manajer secara agresif menciptakan dan memimpin perubahanperubahan
sercara alamiah.
b) Joseph Juran (1979) mengemukakan bahwa peralihan keseimbangan di
antara upaya dan waktu yang difokuskan untuk mengembangkan ciri-ciri
khusus sebuah produk versus upaya untuk menghilangkan seluruh
kekurangan dari sebuah produk. Permulaan perubahan yang alamiah yang
merupakan sebuah elemen tak terpisahkan dari manajemen kualitas total.
c) Philip B. Crosby (Quality is free, 1979, Quality without Tears, 1984 dan
Leading, 1999) mengemukakan kualitas sebagai sebuah keselarasan
terhadap persyaratan dan kualitas bisa ada atau tidak, tiada tingkatantingkatan
langsungnya. Para manajer harus mengukur kualitas dengan
secara rutin menghitung biaya akibat terciptanya kesalahan-kesalahan. Ia
menekankan penghapusan perubahan-perubahan yang merusak lewat
pencegahan kesalahan-kesalahan yang membawa pada perubahanperubahan
tersebut.
d) Kurt Lewin (1890-1947) yang merupakan psikolog yang mempelajari perilaku
kelompok-kelompok sosial dan terkenal sebagai Pendiri psikologi Sosial
Modern. Lewin berpendapat bahwa seluruh data atau informasi di dunia
tidaklah bermanfaat kecuali diterjemahkan menjadi tindakan yang tepat,
yang merupakan apa yang perlu dilakukan para manajer perubahan. Ia
mengembangkan analisis medan gaya sebagai sebuah alat bagi perubahan
lewat pencegahan yang digunakan untuk menentukan kekuatan-kekuatan
mana yang mendorong atau menahan sebuah perubahan tertentu.
e) Robert Blake, Ph.D dan Jene Mouton, telah menciptakan sebuah model
untuk menggambarkan gaya-gaya kepemimpinan lewat pembuatan grafik
watak-watak manajerial pada sebuah kisi. Kisi manajerial Blake and Mouton
menunjukkan kepada para Manajer perubahan jenis-jenis pemimpin apa
sebenarnya mereka, sebagai kebalikan dari jenis-jenis pemimpin yang
mereka sangkakan atas diri mereka.
Setelah merujuk pada pandangan dan teori yang dikemukan para ahli
maka setidaknya ada empat model pendekatan yang umum dilakukan dalam
manajemen perubahan. Keempat model tersebut telah dipraktikan dalam
sejarahnya, yang harus disadari bahwa perubahan perlu mencakup mind-setting
sehingga tidak sekedar basa basi atau formalitas. Empat pendekatan tersebut
adalah (a) pendekatan rasional-empiris, (b) pendekatan normatif-reedukatif, (c)
pendekatan kekuasaan-koersif, dan (d) pendekatan lingkungan-adaptif. Namun,
pada penulisan ini lebih cocok untuk didekati dengan pendekatan keempat yaitu
lingkungan-adaptif.
Pendekatan lingkungan-adaptif dipilih karena didasarkan pada hipotesa
bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri atau
beradaptasi dengan lingkungan atau situasi terbaru sekalipun. Ekstrimnya, jika
lingkungan baru telah berubah sama sekali, maka orang mau tidak mau harus
menyesuaikan diri agar tetap survive (bertahan). Sehingga manajemen
perubahan melakukan fungsi menyusun semacam strusktur operasi baru dan
secara bertahap menggeser pada target perubahan dari struktur lama ke struktur
baru yang memberikan nilai kemanfaatan.www.tnial.mil.id
manajemen perubahan1 merupakan pendekatan baru yang dikembangkan dan
populer dalam menyelesaikan permasalahan pada setiap tatanan. Manajemen
perubahan, sesuai dengan namanya digunakan untuk melakukan perubahan atau
untuk menghadapi perubahan. Perubahan perlu dilakukan karena situasi dan
kondisi berubah, tuntutan, dan bahkan perkembangan pada tataran praktispun
mengharuskannya. Manajemen Perubahan tidak hanya perlu diterapkan pada
perubahan yang sifatnya relatif dapat diprediksi (predictable), tetapi CM juga
relevan untuk menghadapi perubahan drastis yang disebabkan oleh hal-hal yang
tidak dapat diprediksikan jauh sebelumnya (unpredictable). Contoh penyebab
1 Perubahan bisa bermakna melakukan hal-hal dengan cara baru, mengikuti jalur baru,
mengadopsi teknolohi baru, memasang dan menggunakansistem baru, mengikuti prosedurprosedur
manajemen baru, menggabungkan, melakukan reorganisasi, atau terjadinya
peristiwa yang berisfat mengganggu (disruptive) yang sangat signifikan (Jeff Davidson, Change
Management – Terjemahan (Jakarta, Prenada, 2005) halaman 3.
perubahan itu adalah bencana alam (seperti gempa, angin kencang, banjir,
kelaparan, dan sebagainya), dan masih banyak lagi.
Berdasarkan pemikiran inilah maka Change Management cocok dalam
penataan kembali tata kelola pulau-pulau kecil terluar, karena perlu adanya
perubahan pengelolaan dan cara pandang dalam menghadirkan kondisi yang
lebih baik di wilayah perbatasan Indonesia tersebut.
Perspektif teori, menyebutkan bahwa perubahan dapat dibedakan
dengan cara lain. Rhenald Kasali mengutip pendapat R.L. Daft (2004) membagi
perubahan menjadi dua: (a) Perubahan strategis. Perubahan ini mencakup
transformasi dan perubahan visi, sistem kerja, sampai restrukturisasi; (b)
Perubahan operasional. Ini adalah perubahan yang harus terus menerus
dilakukan untuk menjaga keseimbangan organisasi. Pembenahan bagian atau
unit-unit di dalam sistem menjadi bagian dari perubahan ini. Manajemen
perubahan tidak hanya berguna untuk meraih keberhasilan di masa depan,
tetapi juga diperlukan sebagai solusi atau terapi atas permasalahan yang sedang
dihadapi saat ini.
Dari beberapa sumber referensi sehingga dapat disimpulkan bahwa
manajemen perubahan merupakan sebuah proses penyejajaran (alignment)
berkelanjutan sebuah sistem dengan situasional dan melakukanya lebih tanggap
dan efektif dari pada para peasingnya. Dimana Manajemen Perubahan
merupakan upaya yang dilakukan untuk mengelola akibat-akibat yang
ditimbulkan karena terjadinya perubahan dalam sistem. Perubahan dapat terjadi
karena sebab-sebab yang berasal dari dalam maupun dari luar sistem tersebut.
Manajemen perubahan berasal dari teori organisasi sehingga beberapa
literatur banyak yang merujuk pada pendekatan yang dikembangkan pada teori
tersebut, akan tetapi walaupun pendekatan ini berkembangan dari teori
organisasi tetap saja sebagai sebuah pendekatan dia memiliki kesamaan
karakteristik dalam sebuah sistem. Ada beberapa teori yang mendasari change
management, teori tersebut sebagai berikut:
a) W. Edwards Deming, Ph.D (1900-1993) mengemukakan bahwa kualitas
bukanlah sesuatu yang perlu didifinisikan dalam pengertian kongkrit dan
kualitas hanya dapat didifinisikan oleh pelanggan serta mengusulkan agar
para manajer secara agresif menciptakan dan memimpin perubahanperubahan
sercara alamiah.
b) Joseph Juran (1979) mengemukakan bahwa peralihan keseimbangan di
antara upaya dan waktu yang difokuskan untuk mengembangkan ciri-ciri
khusus sebuah produk versus upaya untuk menghilangkan seluruh
kekurangan dari sebuah produk. Permulaan perubahan yang alamiah yang
merupakan sebuah elemen tak terpisahkan dari manajemen kualitas total.
c) Philip B. Crosby (Quality is free, 1979, Quality without Tears, 1984 dan
Leading, 1999) mengemukakan kualitas sebagai sebuah keselarasan
terhadap persyaratan dan kualitas bisa ada atau tidak, tiada tingkatantingkatan
langsungnya. Para manajer harus mengukur kualitas dengan
secara rutin menghitung biaya akibat terciptanya kesalahan-kesalahan. Ia
menekankan penghapusan perubahan-perubahan yang merusak lewat
pencegahan kesalahan-kesalahan yang membawa pada perubahanperubahan
tersebut.
d) Kurt Lewin (1890-1947) yang merupakan psikolog yang mempelajari perilaku
kelompok-kelompok sosial dan terkenal sebagai Pendiri psikologi Sosial
Modern. Lewin berpendapat bahwa seluruh data atau informasi di dunia
tidaklah bermanfaat kecuali diterjemahkan menjadi tindakan yang tepat,
yang merupakan apa yang perlu dilakukan para manajer perubahan. Ia
mengembangkan analisis medan gaya sebagai sebuah alat bagi perubahan
lewat pencegahan yang digunakan untuk menentukan kekuatan-kekuatan
mana yang mendorong atau menahan sebuah perubahan tertentu.
e) Robert Blake, Ph.D dan Jene Mouton, telah menciptakan sebuah model
untuk menggambarkan gaya-gaya kepemimpinan lewat pembuatan grafik
watak-watak manajerial pada sebuah kisi. Kisi manajerial Blake and Mouton
menunjukkan kepada para Manajer perubahan jenis-jenis pemimpin apa
sebenarnya mereka, sebagai kebalikan dari jenis-jenis pemimpin yang
mereka sangkakan atas diri mereka.
Setelah merujuk pada pandangan dan teori yang dikemukan para ahli
maka setidaknya ada empat model pendekatan yang umum dilakukan dalam
manajemen perubahan. Keempat model tersebut telah dipraktikan dalam
sejarahnya, yang harus disadari bahwa perubahan perlu mencakup mind-setting
sehingga tidak sekedar basa basi atau formalitas. Empat pendekatan tersebut
adalah (a) pendekatan rasional-empiris, (b) pendekatan normatif-reedukatif, (c)
pendekatan kekuasaan-koersif, dan (d) pendekatan lingkungan-adaptif. Namun,
pada penulisan ini lebih cocok untuk didekati dengan pendekatan keempat yaitu
lingkungan-adaptif.
Pendekatan lingkungan-adaptif dipilih karena didasarkan pada hipotesa
bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri atau
beradaptasi dengan lingkungan atau situasi terbaru sekalipun. Ekstrimnya, jika
lingkungan baru telah berubah sama sekali, maka orang mau tidak mau harus
menyesuaikan diri agar tetap survive (bertahan). Sehingga manajemen
perubahan melakukan fungsi menyusun semacam strusktur operasi baru dan
secara bertahap menggeser pada target perubahan dari struktur lama ke struktur
baru yang memberikan nilai kemanfaatan.www.tnial.mil.id
Pendekatan Change Management Dalam penataan Kembali Tata Kelola Pulau-pulau Kecil Terluar: Penguatan Kedaulatan dan Stabilitas Nasional
www.tnial.mil.id
Latar Belakang
Padahal jika meruntun sejarah, bangsa ini pernah besar di masa Sriwijaya dan Majapahit dengan armada laut terkuat di kawasan nusantara. Sejarah kehidupan manusia di muka bumi ini pun tidak dapat dilepaskan dari perairan (laut), tetapi anehnya perairan (laut) selalu dipandang sebagai sumber kehidupan kedua setelah daratan.
Indonesia yang dikenal sebagai kawasan dengan kepulauan dan perairan laut memiliki sumber ketetapan yang jelas mengenai pengakuan wilayah perairan. Deklarasi Djoeanda (1957) yang berisikan tentang konsepsi negara
Nusantara yang diterima masyarakat dunia dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) 1982, yang menyatakan wilayah laut Indonesia. Ironisnya, Pulau Sipadan dan Ligitan jatuh menjadi bagian dari negara Malaysia dengan putusan legal dari Mahkamah Internasional, yang kemudian disusul dengan sengketa di Perairan Ambalat.
Kedua hal ini muncul disaat pemerintah sedang mengupayakan proses
Selama ini, perhatian dan kepedulian pemerintah pusat terhadap pembangunan di kawasan pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga masih sangat rendah. Dikarenakan oleh kendala keterbatasan
anggaran serta lebih riuh rendahnya gemuruh perpolitikan di tingkat pusat membuat daerah-daerah perbatasan
seolah ‘wilayah tak bertuan’. Penduduk di wilayah perbatasan lalu menjadi ‘terasing dari negerinya sendiri’ dan memang secara politis maupun juga ekonomis dari komunikasi menjadi terisolir. Realitas faktual ini – terutama kasus Ambalat mendorong dan menggerakkan kemauan politik (political will) yang lebih kuat dan terarah dari
Pemerintah RI untuk secara riil, koordinatif dan terfokus semakin memberikan aksentuasi pada pembangunan dan pengawasan di wilayah perbatasan, termasuk dan terutama di kawasan yang oleh karena suatu faktor atau beberapa
faktor tertentu dapat menjadi ‘lahan perebutan’ antar negara. Sebutlah, misalnya karena di wilayah tersebut terkandung deposit minyak atau sumber daya alam lainnya yang melimpah namun belum sempat tersentuh serta belum dapat digali dan dikelola. Kurangnya kemampuan pemerintah pusat membangun
dan mengawasi wilayah perbatasan RI menjadi salah satu kelemahan fundamental yang mengakibatkan mudahnya terjadi tindak pencurian ikan (illegal fishing) ataupun pencurian dan penyelundupan kayu (illegal logging)
serta berbagai kekayaan Indonesia lainnya. Dari perspektif sosial-politik, hal ini sesungguhnya mencerminkan bahwa
kedaulatan kita atas negara/wilayah sendiri masih sangat rapuh dan rentan,sehingga memungkinkan terjadinya pelanggaran perbatasan bahkan yang lebih merugikan lagi ’pencaplokan wilayah perbatasan’ sebagaimana yang nyaris terjadi di Ambalat.
Wilayah laut sebagai salah satu batas suatu negara, sangat begitu rentan
terhadap gangguan yang bisa berdampak dengan goyahnya kedaulatan suatu
negara. Tanpa disadari wilayah perbatasan laut merupakan beranda depan
keseluruhan wilayah negara. Sebagai beranda depan, maka sudah barang tentu
perbatasan merupakan daerah yang mudah diakses oleh negara-negara yang
berbatasan, sehingga secara otomatis wajar bila wilayah ini yang paling rentan
terhadap pengaruh dari luar baik dalam bentuk ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya dan Hankam.
Berbagai permasalahan atau pun konflik sering muncul di perbatasan
laut, mulai dari masalah lintas transit dan hak kapal-kapal asing melalui laut-laut
Indonesia yang begitu luas, penyelundupan baik itu penyelundupan barang
konsumsi, Jatri dan narkoba, dan juga penyelundupan manusia. Perampokan
bersenjata di laut, Illegal fishing, hingga klaim dan pendudukan wilayah. Belum
lagi adanya 12 pulau terluar yang kondisinya sangat rawan penguasaan oleh
pihak asing.
Untuk pulau-pulau terluar, pengamanan selama ini lebih banyak ditujukan
kepada usaha simbolis seperti pemberian nama, daripada usaha membangun
daerah dan pulau-pulau perbatasan dan memasukkan mereka ke dalam main
stream kehidupan ekonomi dan politik Indonesia secara keseluruhan. beberapa
kasus Timor Gap, Natuna (sengketa landas kontinen antara Indonesia dan
Vietnam), Sipadan Ligitan, Ambalat, dan Karang Unarang. Kondisi yang telah
terjadi mengisyaratkan bahwa kedaulatan wilayah laut adalah wajib untuk
dikuatkan. Semua hal tersebut dikarenakan lemahnya dalam pengelolaan
(manajemen). Guna memberikan kekuatan terhadap beberapa kepentingan
dalam pengelolaan, maka diperlukan perubahan pengelolaan yang berorientasi
pada pencapaian tujuan, yaitu penguatan kedaulatan dan stabilitas nasional.
Oleh sebab itu, pada karya tulis ini dikaji bagaimana penerapan change
management dalam penataan kembali tata kelola pulau-pulau kecil terluar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pemikiran yang ada maka rumusan
masalah pada penelitian ini diarahkan untuk mengungkapkan pola pengelolaan
baru dengan sesuai dengan keterbutuhan pulau-pulau kecil terluar. Sehingga
dirumuskanlah sebagai berikut, Bagaimana pendekatan change management
dalam penataan kembali tata kelola pulau-pulau kecil terluar, dalam rangka
penguatan kedaulatan dan stabilitas nasional.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah mengetahui bagaimana
pengelolaan baru dengan pendekatan change management dalam penataan
kembali tata kelola pulau-pulau kecil terluar sehingga terciptanya kondisi
stabilitas nasional dan penguatan terhadap kedaulatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Tujuan lain dari penulisan ini, ialah memberikan sumbangan
pemikiran berupa solusi terhadap problematik bangsa yang selalu muncul
terutama dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dan menjadi bagian
penting pada proses penguatan kedaulatan kewilayahan dan stabilitas nasional.
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah:
1. Memberikan alternatif pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan
pendekatan change management melalui pengelolaan yang merubah dan
menggantikan cara pandang terhadap metode pengelolaan lama.
2. Memberikan kerangka konseptual dan solusi dalam penataan kembali
pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan pelibatan seluruh pemangku
kepentingan sehingga terciptanya kedaulatan dan stabilitas nasional.
1.4 Metode Penulisan
Metode yang akan digunakan pada penulisan ini adalah metode
penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Pendekatan
deskriptif dipilih sebagaimana dikemukan oleh Moleong (1989) bahwa penelitian
kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia
sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif, mengandalkan analisis
data secara induktif, mengarahkan sasaran penelitiannya pada usaha
mengemukakan teori dari dasar, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses
daripada hasil, membatasi studi dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria
untuk memeriksa keabsahan data.
Dasar teoretisnya bertumpuan pada pendekatan fenomenologis, interaksi
simbolik, dan etnometodologis. Pendekatan fenomenologis berusaha memahami
subjek dari segi pandangan. Interaksi simbolik mendasarkan diri atas pengalaman
manusia yang ditengahi dengan penafsiran; segala sesuatu tidak memiliki
pengertian sendiri-sendiri, sedangkan pengertian itu dikenakan padanya oleh
seseorang sehingga dalam hal ini penafsiran menjadi esensial.
Sehingga secara kongrit, penulisan ini mengungkapkan fenomena
pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang selama ini masih belum
memaksimalkan potensi dan segala macam nilai-nilai strategis pulau tersebut
sehingga digantikan dengan pola pengelolaan baru melalui pendekatan change
management.
Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa bahan rujukan
berasal dari buku, majalah, jurnal ilmiah dan pustaka yang berhubungan dengan
masalah penulisan. Disamping itu, memanfaatkan juga data telaah dokumentasi.
Dari bahan ini, kemudian diuraikan masalah dan pembahasan masalah penulisan..
Latar Belakang
REPUBLIK Indonesia merupakan negara kesatuan dengan lebih dari 17.504 pulau dan diyakini masih ada pulau-pulau yang belum diketahui. Pulau pulau tersebut terpisahkan oleh perairan (laut) yang amat luas, dengan 5,8 juta
km persegi atau dengan kata lain tiga kali lebih luas daratan. Wajar jika kemudian Indonesia dijuluki negara maritim terbesar di dunia. Namun sebutan ”Negara Maritim” tersebut tidak tercermin dari kegiatan penduduknya, yang amat sedikit
berorientasi ke laut.Padahal jika meruntun sejarah, bangsa ini pernah besar di masa Sriwijaya dan Majapahit dengan armada laut terkuat di kawasan nusantara. Sejarah kehidupan manusia di muka bumi ini pun tidak dapat dilepaskan dari perairan (laut), tetapi anehnya perairan (laut) selalu dipandang sebagai sumber kehidupan kedua setelah daratan.
Indonesia yang dikenal sebagai kawasan dengan kepulauan dan perairan laut memiliki sumber ketetapan yang jelas mengenai pengakuan wilayah perairan. Deklarasi Djoeanda (1957) yang berisikan tentang konsepsi negara
Nusantara yang diterima masyarakat dunia dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) 1982, yang menyatakan wilayah laut Indonesia. Ironisnya, Pulau Sipadan dan Ligitan jatuh menjadi bagian dari negara Malaysia dengan putusan legal dari Mahkamah Internasional, yang kemudian disusul dengan sengketa di Perairan Ambalat.
Kedua hal ini muncul disaat pemerintah sedang mengupayakan proses
perubahan paradigma yang tidak hanya meletakkan daratan sebagai pokok pembangunan. Namun disatu sisi, peristiwa tersebut memberikan hikmah positif bagi bangsa Indonesia untuk meningkatkan kepedulian nasional mengenai urgensi penataan dan pemeliharaan terhadap batas wilayah serta pembangunan di daerah-daerah di kawasan perbatasan terutama isu pengelolaan pulau-pulau kecil terluar.
Selama ini, perhatian dan kepedulian pemerintah pusat terhadap pembangunan di kawasan pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga masih sangat rendah. Dikarenakan oleh kendala keterbatasan
anggaran serta lebih riuh rendahnya gemuruh perpolitikan di tingkat pusat membuat daerah-daerah perbatasan
seolah ‘wilayah tak bertuan’. Penduduk di wilayah perbatasan lalu menjadi ‘terasing dari negerinya sendiri’ dan memang secara politis maupun juga ekonomis dari komunikasi menjadi terisolir. Realitas faktual ini – terutama kasus Ambalat mendorong dan menggerakkan kemauan politik (political will) yang lebih kuat dan terarah dari
Pemerintah RI untuk secara riil, koordinatif dan terfokus semakin memberikan aksentuasi pada pembangunan dan pengawasan di wilayah perbatasan, termasuk dan terutama di kawasan yang oleh karena suatu faktor atau beberapa
faktor tertentu dapat menjadi ‘lahan perebutan’ antar negara. Sebutlah, misalnya karena di wilayah tersebut terkandung deposit minyak atau sumber daya alam lainnya yang melimpah namun belum sempat tersentuh serta belum dapat digali dan dikelola. Kurangnya kemampuan pemerintah pusat membangun
dan mengawasi wilayah perbatasan RI menjadi salah satu kelemahan fundamental yang mengakibatkan mudahnya terjadi tindak pencurian ikan (illegal fishing) ataupun pencurian dan penyelundupan kayu (illegal logging)
serta berbagai kekayaan Indonesia lainnya. Dari perspektif sosial-politik, hal ini sesungguhnya mencerminkan bahwa
kedaulatan kita atas negara/wilayah sendiri masih sangat rapuh dan rentan,sehingga memungkinkan terjadinya pelanggaran perbatasan bahkan yang lebih merugikan lagi ’pencaplokan wilayah perbatasan’ sebagaimana yang nyaris terjadi di Ambalat.
Wilayah laut sebagai salah satu batas suatu negara, sangat begitu rentan
terhadap gangguan yang bisa berdampak dengan goyahnya kedaulatan suatu
negara. Tanpa disadari wilayah perbatasan laut merupakan beranda depan
keseluruhan wilayah negara. Sebagai beranda depan, maka sudah barang tentu
perbatasan merupakan daerah yang mudah diakses oleh negara-negara yang
berbatasan, sehingga secara otomatis wajar bila wilayah ini yang paling rentan
terhadap pengaruh dari luar baik dalam bentuk ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya dan Hankam.
Berbagai permasalahan atau pun konflik sering muncul di perbatasan
laut, mulai dari masalah lintas transit dan hak kapal-kapal asing melalui laut-laut
Indonesia yang begitu luas, penyelundupan baik itu penyelundupan barang
konsumsi, Jatri dan narkoba, dan juga penyelundupan manusia. Perampokan
bersenjata di laut, Illegal fishing, hingga klaim dan pendudukan wilayah. Belum
lagi adanya 12 pulau terluar yang kondisinya sangat rawan penguasaan oleh
pihak asing.
Untuk pulau-pulau terluar, pengamanan selama ini lebih banyak ditujukan
kepada usaha simbolis seperti pemberian nama, daripada usaha membangun
daerah dan pulau-pulau perbatasan dan memasukkan mereka ke dalam main
stream kehidupan ekonomi dan politik Indonesia secara keseluruhan. beberapa
kasus Timor Gap, Natuna (sengketa landas kontinen antara Indonesia dan
Vietnam), Sipadan Ligitan, Ambalat, dan Karang Unarang. Kondisi yang telah
terjadi mengisyaratkan bahwa kedaulatan wilayah laut adalah wajib untuk
dikuatkan. Semua hal tersebut dikarenakan lemahnya dalam pengelolaan
(manajemen). Guna memberikan kekuatan terhadap beberapa kepentingan
dalam pengelolaan, maka diperlukan perubahan pengelolaan yang berorientasi
pada pencapaian tujuan, yaitu penguatan kedaulatan dan stabilitas nasional.
Oleh sebab itu, pada karya tulis ini dikaji bagaimana penerapan change
management dalam penataan kembali tata kelola pulau-pulau kecil terluar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pemikiran yang ada maka rumusan
masalah pada penelitian ini diarahkan untuk mengungkapkan pola pengelolaan
baru dengan sesuai dengan keterbutuhan pulau-pulau kecil terluar. Sehingga
dirumuskanlah sebagai berikut, Bagaimana pendekatan change management
dalam penataan kembali tata kelola pulau-pulau kecil terluar, dalam rangka
penguatan kedaulatan dan stabilitas nasional.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan
Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah mengetahui bagaimana
pengelolaan baru dengan pendekatan change management dalam penataan
kembali tata kelola pulau-pulau kecil terluar sehingga terciptanya kondisi
stabilitas nasional dan penguatan terhadap kedaulatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Tujuan lain dari penulisan ini, ialah memberikan sumbangan
pemikiran berupa solusi terhadap problematik bangsa yang selalu muncul
terutama dalam pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dan menjadi bagian
penting pada proses penguatan kedaulatan kewilayahan dan stabilitas nasional.
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah:
1. Memberikan alternatif pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan
pendekatan change management melalui pengelolaan yang merubah dan
menggantikan cara pandang terhadap metode pengelolaan lama.
2. Memberikan kerangka konseptual dan solusi dalam penataan kembali
pengelolaan pulau-pulau kecil terluar dengan pelibatan seluruh pemangku
kepentingan sehingga terciptanya kedaulatan dan stabilitas nasional.
1.4 Metode Penulisan
Metode yang akan digunakan pada penulisan ini adalah metode
penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Pendekatan
deskriptif dipilih sebagaimana dikemukan oleh Moleong (1989) bahwa penelitian
kualitatif berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia
sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif, mengandalkan analisis
data secara induktif, mengarahkan sasaran penelitiannya pada usaha
mengemukakan teori dari dasar, bersifat deskriptif, lebih mementingkan proses
daripada hasil, membatasi studi dengan fokus, memiliki seperangkat kriteria
untuk memeriksa keabsahan data.
Dasar teoretisnya bertumpuan pada pendekatan fenomenologis, interaksi
simbolik, dan etnometodologis. Pendekatan fenomenologis berusaha memahami
subjek dari segi pandangan. Interaksi simbolik mendasarkan diri atas pengalaman
manusia yang ditengahi dengan penafsiran; segala sesuatu tidak memiliki
pengertian sendiri-sendiri, sedangkan pengertian itu dikenakan padanya oleh
seseorang sehingga dalam hal ini penafsiran menjadi esensial.
Sehingga secara kongrit, penulisan ini mengungkapkan fenomena
pengelolaan pulau-pulau kecil terluar yang selama ini masih belum
memaksimalkan potensi dan segala macam nilai-nilai strategis pulau tersebut
sehingga digantikan dengan pola pengelolaan baru melalui pendekatan change
management.
Data yang digunakan merupakan data sekunder berupa bahan rujukan
berasal dari buku, majalah, jurnal ilmiah dan pustaka yang berhubungan dengan
masalah penulisan. Disamping itu, memanfaatkan juga data telaah dokumentasi.
Dari bahan ini, kemudian diuraikan masalah dan pembahasan masalah penulisan..
11 Azas Kepemimpinan
1. Taqwa
Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada-Nya.
2. Ing Ngarsa Sung Tulada
Memberi suri tauladan di hadapan anak buah.
3. Ing Madya Mangun Karsa
Ikut bergiat serta menggugah semangat di tengah-tengah anak buah.
4. Tut Wuri Handayani
Mempengaruhi dan memberi dorongan dari belakang kepada anak buah.
5. Waspada Purba Wisesa
Selalu waspada mengawasi, serta sanggup dan memberi koreksi kepada anak buah.
6. Ambeg Parama Arta
Dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan.
7. Prasaja
Tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan.
8. Satya
Sikap loyal yang timbal balik, dari atasan terhadap bawahan dan dari bawahan terhadap atasan dan ke samping.
9. Gemi Nastiti
Kesadaran dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan.
10. Belaka
Kemauan, kerelaan dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya.
11. Legawa
Kemauan, kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukan kepada generasi berikutnya
SYARAT UMUM BINTARA DAN TAMTAMA PK TNI-AL
TNI AL memberikan kesempatan kepada warga negara Indonesia untuk menjadi Bintara Prajurit TNI AL.
Cara pendaftaran :
a. Fotokopi Akte kelahiran satu lembar.
b. Foto Kopi KTP calon dan KTP orang tua / Wali satu lembar.
c. Foto Kopi Kartu Keluarga (KK) satu lembar.
d. Pas photo hitam putih terbaru ukuran 4 x 6 cm sebanyak dua lembar dan 3 x 4 sebanyak 1 lembar.
e. Pas photo hitam putih terbaru ukuran 4 x 6 cm sebanyak dua lembar dan 3x4 sebanyak 1 lembar.
Lain-lainnya.
a. Calon hanya dibenarkan mendaftar di satu tempat.
b. Selama mengikuti seleksi tingkat daerah, keperluan / kebutuhan calon ditanggung sendiri calon.
c. Selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pengujian / pemeriksaan terhadap para pelamar Calon Bintara PK Pria / Wanita tni al dan keluarganya tidak dipungut biaya apapun.
d. Bagi yang dinyatakan lulus seleksi tingkat daerah, biaya perjalanan dan penampungan selama mengikuti seleksi tingkat pusat di denal malang ditanggung oleh Negara.
e. Calon yang dinyatakan tidak lulus pada seleksi tingkat pusat akan dikembalikan ke daerah asal pendaftaran dengan biaya Negara.
Persyaratan
1. Warga Negara republik Indonesia, pria / wanita, beragama, bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, setia dan taat kepada pancasila dan uud 1945, bukan prajurit tni dan bukan anggota polri atau pegawai negeri sipil (pns).
2. Berusia serendah - rendahnya 18 tahun dan setinggi-tingginya 22 tahun pada saat mendaftar.
3. Berkelakuan baik, tidak sedang kehilangan hak untuk menjadi prajurit tni / tni al disertai dengan surat skck dari polres.
4. Berbadan sehat, tidak bertato dan tidak bertindik maupun bekasnya. Tidak buta warna dan tidak berkacamata.
5. Berijazah serendah - rendahnya smu / man / smk jurusan ipa, ips, teknologi dan industri, pelayaran, bisnis, dan manajemen, jurusan akutansi, dan perbankan, analisis kesehatan, spk, smf, sprg, bidan dan sekertaris.
6. Belum pernah menikah dan sanggup untuk tidak menikah selama dalam pendidikan yang dinyatakan dengan surat keterangan dari kepala desa.
7. Tinggi tidak kurang dari 163 cm untuk pria dan 158 cm untuk wanita.
8. Sanggup melaksanakan ikatan dinas pertama selama 10 tahun terhitung mulai saat dilantik menjadi bintara tni al serta bersedia ditempatkan diseluruh wilayah nkri.
9. Harus ada persetujuan dari orang tua untuk calon yang berusia dibawah 21 tahun.
10. Harus ada surat persetujuan dari kepala instansi yang bersangkutan bagi yang sudah bekerja secara tetap sebagai pegawai/ karyawan, dan bersedia diberhentikan dari setatus pegawai apabila diterima menjadi bintara pk pria/wanita TNI AL.
TNI AL memberi kesempatan kepada para pemuda Indonesia untuk dididik menjadi Prajurit TNI Angkatan Laut melalui Tamtama PK TNI AL.
Syarat-syarat:
- Warga negara republik Indonesia, Pria, beragama dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, setia dan taat kepada Pancasila dan uud 1945, bukan prajurit Polri.
- Usia minimal 18 tahun dan maksimal 22 tahun.
- Berijazah serendah-rendahnya SLTP/ Sederajat dengan kategori “lulus”.
- Tinggi badan minimal 163 cm dengan berat badan seimbang.
- Berkelakuan baik dan tidak sedang kehilangan hak untuk menjadi prajurit TNI AL disertai dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian SKCK dari POLRES.
- Berbadan sehat, tidak bertindik (bekas tindik), tidak bertato, tidak buta warna dan tidak berkaca mata.
- Belum pernah menikah dan sanggup untuk tidak menikah selama dalam pendidikan.
- Sanggup mengadakan ikatan dinas pertama selama 7 tahun dengan TNI AL.
- Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah Republik Indonesia.
- Harus ada persetujuan / ijin dari orang tua / wali bagi yang belum berusia 21 tahun.
- Harus mengikuti dan lulus ujian / pemeriksaan :
Administrasi, kesehatan umum dan jiwa, Psikologi, Kesemaptaan Jasmani, termasuk postur dan renang, mental ideologi serta sinyalemen / daktiloskopi.
- Telah berdomisili sekurang-kurangnya 1 (Satu) Tahun sesuai KTP dan kartu keluarga.
Cara Pendaftaran :
- Calon datang sendiri ketempat pendaftaran dengan menunjukan dokumen asli dan menyerahkan foto kopi ; akte kelahiran; KTP dan KTP orang tua; Kartu Keluarga; STTB SD, SLTP, SLTA berikut daftar NEM / UAN masing-masing 1 lembar, Pas photo hitam putih terbaru ukuran 4X6 cm dua lembar, ukuran 3 x 4 cm 2 lembar.
JATI DIRI TNI
JATI DIRI TENTARA NASIONAL INDONESI (TNI) Ialah=
a. Tentara Rakyat, yaitu tentara yang anggotanya berasal dari warga negara Indonesia;
b. Tentara Pejuang, yaitu tentara yang berjuang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak mengenal menyerah dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya;
c. Tentara Nasional, yaitu tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara di atas kepentingan daerah, suku, ras, dan golongan agama; dan
d. Tentara Profesional, yaitu tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
a. Tentara Rakyat, yaitu tentara yang anggotanya berasal dari warga negara Indonesia;
b. Tentara Pejuang, yaitu tentara yang berjuang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tidak mengenal menyerah dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya;
c. Tentara Nasional, yaitu tentara kebangsaan Indonesia yang bertugas demi kepentingan negara di atas kepentingan daerah, suku, ras, dan golongan agama; dan
d. Tentara Profesional, yaitu tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
HANYA SEBUAH KISAH
Burung burung nazar menunggu sedari tadi, tidak bergeming oleh suara suara peluru yang sedang bersahutan.Kadang para ketua saling memberi isyarat akan waktunya makan bangkai dan minum darah yang sudah menjadi nanah.Sementara yang lainnya berputar putar sambil melirik pada mangsa di depan,Awas dan ketakutan akan tidak terjatah.
Duarrrr...dueeemmm....suara dentuman meriam mengarahkan kepada sesuatu entah siapa.Dalam penungguan akhrinya didapatinya sepotong daging, bagian apanya dia sendiri tidak tahu,yang jelas hari ini pesta tidak akan berakhir, terbangpun akan lelah sementra yang lainnya tetap menunggu.
Darah panas berbau, anyir, mayat mayat tak mampu terkubur, turun naik nafas yang masih penasaran.Akankah mati atau tetap hidup tanpa organ.Prajurit prajurit perang tidak berperan, seonggok sampah sama saja dengan mereka tidak bertuan.Asap asap panas penasaran habis membakar apa? bukan, hanyalah sebuah drama kehidupan, ataukah dan akankah terus berlanjut perang ini ?
"air..air..air..haus..haus.."berisik di seberang sana.tidak ada yang bisa bantu. Sesekali bergerak kaku menahan sakitnya luka yang menganga. Apakah ini bentuk pengabdian, pahlawan yang tidak dianggap atau sekedar pelengkap tugas negara. ho ho ho tidak sampai kesana. Hal itu tidaklah terlalu penting, lebih penting seteguk air dari semuanya, tidak perlu nama, pangkat atau gelar, yang dibutuhkan hanya seteguk air.
Burung burung nazar itu tidak akan mengerti.Keserakahan, terkoyak koyak oleh mereka yang saling merebut sebuah aliran.Aliran darah yang panas dan bau.Tapi alangkah senangnya mereka berpesta tak menyadari ada yang meringis di seberang sana, sakiittt sekali.Alangkah mudahnya mereka membagi bangkai bangkai saudaraku yang sedari tadi sudah tidak bergerak.Kini apalah rupanya kalau sudah tercabik.Apalah artinya jika kaki tangan dan kepala tidak lagi menyatu. Saat kain kafanpun bingung , apakah ini utuh atau berapa manusia dalam satu gulungan.
Masa pun akan meninggalkan cerita suram, badan sudah tidak tampak seperti rata dengan tanah.Sekumpulan belatung sedang berpesta ikut menikmati santapan gratis dari anak anak negeri yang tidak bergelar.Dahulukan saja mereka yang terdepan...ataukah kita tidak sama sekali bisa dikenang..Kembali melanjutkan petualangannya...suara suara seram malam mencekam.Takut mati ataukah takut hidup? Burung nazar datang membawa kabar kepada teman temannya, kembalilah berkumpul untuk sebuah kemenangan. Siapakah yang menang sekarang ? Apalah arti kemenangan jika pengabdian tak setulusnya ada dan nyata.Burung nazar sampaikan pesan kepada ibu pertiwi, bilang kalau mereka telah berjuang membela kebenaran.....
Duarrrr...dueeemmm....suara dentuman meriam mengarahkan kepada sesuatu entah siapa.Dalam penungguan akhrinya didapatinya sepotong daging, bagian apanya dia sendiri tidak tahu,yang jelas hari ini pesta tidak akan berakhir, terbangpun akan lelah sementra yang lainnya tetap menunggu.
Darah panas berbau, anyir, mayat mayat tak mampu terkubur, turun naik nafas yang masih penasaran.Akankah mati atau tetap hidup tanpa organ.Prajurit prajurit perang tidak berperan, seonggok sampah sama saja dengan mereka tidak bertuan.Asap asap panas penasaran habis membakar apa? bukan, hanyalah sebuah drama kehidupan, ataukah dan akankah terus berlanjut perang ini ?
"air..air..air..haus..haus.."berisik di seberang sana.tidak ada yang bisa bantu. Sesekali bergerak kaku menahan sakitnya luka yang menganga. Apakah ini bentuk pengabdian, pahlawan yang tidak dianggap atau sekedar pelengkap tugas negara. ho ho ho tidak sampai kesana. Hal itu tidaklah terlalu penting, lebih penting seteguk air dari semuanya, tidak perlu nama, pangkat atau gelar, yang dibutuhkan hanya seteguk air.
Burung burung nazar itu tidak akan mengerti.Keserakahan, terkoyak koyak oleh mereka yang saling merebut sebuah aliran.Aliran darah yang panas dan bau.Tapi alangkah senangnya mereka berpesta tak menyadari ada yang meringis di seberang sana, sakiittt sekali.Alangkah mudahnya mereka membagi bangkai bangkai saudaraku yang sedari tadi sudah tidak bergerak.Kini apalah rupanya kalau sudah tercabik.Apalah artinya jika kaki tangan dan kepala tidak lagi menyatu. Saat kain kafanpun bingung , apakah ini utuh atau berapa manusia dalam satu gulungan.
Masa pun akan meninggalkan cerita suram, badan sudah tidak tampak seperti rata dengan tanah.Sekumpulan belatung sedang berpesta ikut menikmati santapan gratis dari anak anak negeri yang tidak bergelar.Dahulukan saja mereka yang terdepan...ataukah kita tidak sama sekali bisa dikenang..Kembali melanjutkan petualangannya...suara suara seram malam mencekam.Takut mati ataukah takut hidup? Burung nazar datang membawa kabar kepada teman temannya, kembalilah berkumpul untuk sebuah kemenangan. Siapakah yang menang sekarang ? Apalah arti kemenangan jika pengabdian tak setulusnya ada dan nyata.Burung nazar sampaikan pesan kepada ibu pertiwi, bilang kalau mereka telah berjuang membela kebenaran.....
Langganan:
Postingan (Atom)




